Di Solo, Batik Masuk Kurikulum Muatan Lokal

SOLO, KOMPAS.com – Kota Solo akan meluncurkan batik sebagai mata pelajaran muatan lokal tanggal 3 Oktober mendatang. Mata pelajaran batik akan mulai diterapkan tahun ajaran 2010/2011 mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Solo Rakhmat Sutomo mengatakan, setelah peluncuran pihaknya akan mempersiapkan kurikulum, standar isi, jumlah jam belajar, dan tar get capaian. Guru-guru akan mendapat pendidikan dan latihan tentang batik.
“Kami berharap ahli batik dari Laweyan dan Kauman bersedia bergabung untuk menyusun kurikulum ini,” kata Rakhmat, Kamis (1/10).
Tujuan dimasukkannya batik dalam kurikulum agar Solo sebagai pusat batik tidak kehilangan generasi pembatik selain untuk melestarikan batik itu sendiri dan tindak lanjut program Solo Kota Vokasi.
“Harapan kami generasi muda mengerti soal batik termasuk praktik membuatnya. Anak-anak SMA bisa memanfaatkan ini jika setelah lulus tertarik terjun ke usaha pembuatan batik,” kata Rakhmat.
Kurikulum batik akan disusun sesuai jenjang pendidikan. Rakhmat menuturkan, sebagai gambaran di tingkat SD akan diberikan pengenalan batik, alat-alat, dan proses membatik. Di tingkat SMP ditambah dengan praktik membuat batik sederhana. Di tingkat SMA, siswa diberi praktik membuat batik yang lebih lengkap mulai dari membuat pola, menorehkan lilin, hingga memberi warna.
Untuk merayakan batik yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, Kota Solo akan menggelar Solo Membatik Dunia tanggal 2-3 Oktober ini yang terdiri dari beberapa acara, antara lain Batik Fashion, kirab batik, ribuan anak membatik, dan peluncuran batik masuk kurikulum sekolah.
Related posts:
- Batik Akhirnya Resmi Masuk Daftar Warisan UNESCO JAKARTA, KOMPAS.com – Batik Indonesia akhirnya secara resmi dimasukkan dalam...
- Solo Batik Carnival 23 Juni 2010 SOLO BATIK CARNIVAL #3 MOST SPECTACULAR BATIK CARNIVAL ON 3000...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.









HEBAT…..salut buat Pak Rakhmat Sutomo, ini baru kebijakan yang betul-betul bijak. Tapi tolong nggih Pak, jangan karena ‘batik’ siswa jadi kerepotan karena tambahan beaya. Kapan giliran aturan sekolah bertaraf internasional/bilingual/accelerasi diatur agar tidak jadi alat komersialisasi sekolahan. Dari Solo membawa contoh budi pekerti ke seluruh negeri.